Friday, 1 February 2013

Keutamaan Sabar dalam Islam (Makna Sabar)




Dari Suhaib ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh menakjubkan perkaranya orang yang beriman, karena segala urusannya adalah baik baginya. Dan hal yang demikian itu tidak akan terdapat kecuali hanya pada orang mu’min: Yaitu jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan yang terbaik untuknya. Dan jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan hal terbaik bagi dirinya.” (HR. Muslim)
Sekilas Tentang Hadits
Hadits ini merupakan hadits shahih dengan sanad sebagaimana di atas, melalui jalur Tsabit dari Abdurrahman bin Abi Laila, dari Suhaib dari Rasulullah SAW, diriwayatkan oleh :
- Imam Muslim dalam Shahihnya, Kitab Al-Zuhud wa Al-Raqa’iq, Bab Al-Mu’min Amruhu Kulluhu Khair, hadits no 2999.
- Imam Ahmad bin Hambal dalam empat tempat dalam Musnadnya, yaitu hadits no 18455, 18360, 23406 & 23412.
- Diriwayatkan juga oleh Imam al-Darimi, dalam Sunannya, Kitab Al-Riqaq, Bab Al-Mu’min Yu’jaru Fi Kulli Syai’, hadits no 2777.
Makna Hadits Secara Umum
Hadits singkat ini memiliki makna yang luas sekaligus memberikan definisi mengenai sifat dan karakter orang yang beriman. Setiap orang yang beriman digambarkan oleh Rasulullah SAW sebagai orang yang memiliki pesona, yang digambarkan dengan istilah ‘ajaban’ ( عجبا ). Karena sifat dan karakter ini akan mempesona siapa saja.
Kemudian Rasulullah SAW menggambarkan bahwa pesona tersebut berpangkal dari adanya positif thinking setiap mu’min. Dimana ia memandang segala persoalannya dari sudut pandang positif, dan bukan dari sudut nagatifnya.
Sebagai contoh, ketika ia mendapatkan kebaikan, kebahagian, rasa bahagia, kesenangan dan lain sebagainya, ia akan refleksikan dalam bentuk penysukuran terhadap Allah SWT. Karena ia tahu dan faham bahwa hal tersebut merupakan anugerah Allah yang diberikan kepada dirinya. Dan tidaklah Allah memberikan sesuatu kepadanya melainkan pasti sesuatu tersebut adalah positif baginya.
Sebaliknya, jika ia mendapatkan suatu musibah, bencana, rasa duka, sedih, kemalangan dan hal-hal negatif lainnya, ia akan bersabar. Karena ia meyakini bahwa hal tersebut merupakan pemberian sekaligus cobaan bagi dirinya yang pasti memiliki rahasia kebaikan di dalamnya. Sehingga refleksinya adalah dengan bersabar dan mengembalikan semuanya kepada Allah SWT.
Urgensi Kesabaran
Kesabaran merupakan salah satu ciri mendasar orang yang bertaqwa kepada Allah SWT. Bahkan sebagian ulama mengatakan bahwa kesabaran merupakan setengahnya keimanan. Sabar memiliki kaitan yang tidak mungkin dipisahkan dari keimanan: Kaitan antara sabar dengan iman, adalah seperti kepala dengan jasadnya. Tidak ada keimanan yang tidak disertai kesabaran, sebagaimana juga tidak ada jasad yang tidak memiliki kepala. Oleh karena itulah Rasulullah SAW menggambarkan tentang ciri dan keutamaan orang yang beriman sebagaimana hadits di atas.
Namun kesabaran adalah bukan semata-mata memiliki pengertian “nrimo”, ketidak mampuan dan identik dengan ketertindasan. Sabar sesungguhnya memiliki dimensi yang lebih pada pengalahan hawa nafsu yang terdapat dalam jiwa insan. Dalam berjihad, sabar diimplementasikan dengan melawan hawa nafsu yang menginginkan agar dirinya duduk dengan santai dan tenang di rumah. Justru ketika ia berdiam diri itulah, sesungguhnya ia belum dapat bersabar melawan tantangan dan memenuhi panggilan ilahi.
Sabar juga memiliki dimensi untuk merubah sebuah kondisi, baik yang bersifat pribadi maupun sosial, menuju perbaikan agar lebih baik dan baik lagi. Bahkan seseorang dikatakan dapat diakatakan tidak sabar, jika ia menerima kondisi buruk, pasrah dan menyerah begitu saja. Sabar dalam ibadah diimplementasikan dalam bentuk melawan dan memaksa diri untuk bangkit dari tempat tidur, kemudian berwudhu lalu berjalan menuju masjid dan malaksanakan shalat secara berjamaah. Sehingga sabar tidak tepat jika hanya diartikan dengan sebuah sifat pasif, namun ia memiliki nilai keseimbangan antara sifat aktif dengan sifat pasif.
Makna Sabar
Sabar merupakan sebuah istilah yang berasal dari bahasa Arab, dan sudah menjadi istilah dalam bahasa Indonesia. Asal katanya adalah “Shobaro”, yang membentuk infinitif (masdar) menjadi “shabran”. Dari segi bahasa, sabar berarti menahan dan mencegah. Menguatkan makna seperti ini adalah firman Allah dalam Al-Qur’an:
Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas. (QS. Al-Kahfi/ 18 : 28)
Perintah untuk bersabar pada ayat di atas, adalah untuk menahan diri dari keingingan ‘keluar’ dari komunitas orang-orang yang menyeru Rab nya serta selalu mengharap keridhaan-Nya. Perintah sabar di atas sekaligus juga sebagai pencegahan dari keinginan manusia yang ingin bersama dengan orang-orang yang lalai dari mengingat Allah SWT.
Sedangkan dari segi istilahnya, sabar adalah:
Menahan diri dari sifat kegeundahan dan rasa emosi, kemudian menahan lisan dari keluh kesah serta menahan anggota tubuh dari perbuatan yang tidak terarah.
Amru bin Usman mengatakan, bahwa sabar adalah keteguhan bersama Allah, menerima ujian dari-Nya dengan lapang dan tenang. Hal senada juga dikemukakan oleh Imam al-Khowas, bahwa sabar adalah refleksi keteguhan untuk merealisasikan al-Qur’an dan sunnah. Sehingga sesungguhnya sabar tidak identik dengan kepasrahan dan ketidak mampuan. Justru orang yang seperti ini memiliki indikasi adanya ketidak sabaran untuk merubah kondisi yang ada, ketidak sabaran untuk berusaha, ketidak sabaran untuk berjuang dan lain sebagainya.
Rasulullah SAW memerintahkan umatnya untuk sabar ketika berjihad. Padahal jihad adalah memerangi musuh-musuh Allah, yang klimaksnya adalah menggunakan senjata (perang). Artinya untuk berbuat seperti itu perlu kesabaran untuk mengeyampingkan keiinginan jiwanya yang menginginkan rasa santai, bermalas-malasan dan lain sebagainya. Sabar dalam jihad juga berarti keteguhan untuk menghadapi musuh, serta tidak lari dari medan peperangan. Orang yang lari dari medan peperangan karena takut, adalah salah satu indikasi tidak sabar.
Sabar Sebagaimana Digambarkan Dalam Al-Qur’an
Dalam al-Qur’an banyak sekali ayat-ayat yang berbicara mengenai kesabaran. Jika ditelusuri secara keseluruhan, terdapat 103 kali disebut dalam al-Qur’an, kata-kata yang menggunakan kata dasar sabar; baik berbentuk isim maupun fi’ilnya. Hal ini menunjukkan betapa kesabaran menjadi perhatian Allah SWT, yang Allah tekankan kepada hamba-hamba-Nya. Dari ayat-ayat yang ada, para ulama mengklasifikasikan sabar dalam al-Qur’an menjadi beberapa macam;
1. Sabar merupakan perintah Allah SWT. Hal ini sebagaimana yang terdapat dalam QS.2: 153: “Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”
Ayat-ayat lainnya yang serupa mengenai perintah untuk bersabar sangat banyak terdapat dalam Al-Qur’an. Diantaranya adalah dalam QS.3: 200, 16: 127, 8: 46, 10:109, 11: 115 dsb.
2. Larangan isti’ja l(tergesa-gesa/ tidak sabar), sebagaimana yang Allah firmankan (QS. Al-Ahqaf/ 46: 35): “Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka…”
3. Pujian Allah bagi orang-orang yang sabar, sebagaimana yang terdapat dalam QS. 2: 177: “…dan orang-orang yang bersabar dalam kesulitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar imannya dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa.”
4. Allah SWT akan mencintai orang-orang yang sabar. Dalam surat Ali Imran (3: 146) Allah SWT berfirman : “Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar.”
5. Kebersamaan Allah dengan orang-orang yang sabar. Artinya Allah SWT senantiasa akan menyertai hamba-hamba-Nya yang sabar. Allah berfirman (QS. 8: 46) ; “Dan bersabarlah kamu, karena sesungguhnya Allah itu beserta orang-orang yang sabar.”
6. Mendapatkan pahala surga dari Allah. Allah mengatakan dalam al-Qur’an (13: 23 – 24); “(yaitu) surga `Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan): “Salamun `alaikum bima shabartum” (keselamatan bagi kalian, atas kesabaran yang kalian lakukan). Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.”
Inilah diantara gambaran Al-Qur’an mengenai kesabaran. Gembaran-gambaran lain mengenai hal yang sama, masih sangat banyak, dan dapat kita temukan pada buku-buku yang secara khusus membahas mengenai kesabaran.
Kesabaran Sebagaimana Digambarkan Dalam Hadits.
Sebagaimana dalam al-Qur’an, dalam hadits juga banyak sekali sabda-sabda Rasulullah SAW yang menggambarkan mengenai kesabaran. Dalam kitab Riyadhus Shalihin, Imam Nawawi mencantumkan 29 hadits yang bertemakan sabar. Secara garis besar, hadits-hadits tersebut menggambarkan kesabaran sebagai berikut;
1. Kesabaran merupakan “dhiya’ ” (cahaya yang amat terang). Karena dengan kesabaran inilah, seseorang akan mampu menyingkap kegelapan. Rasulullah SAW mengungkapkan, “…dan kesabaran merupakan cahaya yang terang…” (HR. Muslim)
2. Kesabaran merupakan sesuatu yang perlu diusahakan dan dilatih secara optimal. Rasulullah SAW pernah menggambarkan: “…barang siapa yang mensabar-sabarkan diri (berusaha untuk sabar), maka Allah akan menjadikannya seorang yang sabar…” (HR. Bukhari)
3. Kesabaran merupakan anugrah Allah yang paling baik. Rasulullah SAW mengatakan, “…dan tidaklah seseorang itu diberi sesuatu yang lebih baik dan lebih lapang daripada kesabaran.” (Muttafaqun Alaih)
4. Kesabaran merupakan salah satu sifat sekaligus ciri orang mu’min, sebagaimana hadits yang terdapat pada muqadimah; “Sungguh menakjubkan perkara orang yang beriman, karena segala perkaranya adalah baik. Jika ia mendapatkan kenikmatan, ia bersyukur karena (ia mengatahui) bahwa hal tersebut adalah memang baik baginya. Dan jika ia tertimpa musibah atau kesulitan, ia bersabar karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut adalah baik baginya.” (HR. Muslim)
5. Seseorang yang sabar akan mendapatkan pahala surga. Dalam sebuah hadits digambarkan; Dari Anas bin Malik ra berkata, bahwa aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, Sesungguhnya Allah berfirman, “Apabila Aku menguji hamba-Ku dengan kedua matanya, kemudian diabersabar, maka aku gantikan surga baginya.” (HR. Bukhari)
6. Sabar merupakan sifat para nabi. Ibnu Mas’ud dalam sebuah riwayat pernah mengatakan: Dari Abdullan bin Mas’ud berkata”Seakan-akan aku memandang Rasulullah SAW menceritakan salah seorang nabi, yang dipukuli oleh kaumnya hingga berdarah, kemudia ia mengusap darah dari wajahnya seraya berkata, ‘Ya Allah ampunilah dosa kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui.” (HR. Bukhari)
7. Kesabaran merupakan ciri orang yang kuat. Rasulullah SAW pernah menggambarkan dalam sebuah hadits; Dari Abu Hurairah ra berkata, bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, namun orang yang kuat adalah orang yang memiliki jiwanya ketika marah.” (HR. Bukhari)
8. Kesabaran dapat menghapuskan dosa. Rasulullah SAW menggambarkan dalam sebuah haditsnya; Dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullan SAW bersabda, “Tidaklah seorang muslim mendapatkan kelelahan, sakit, kecemasan, kesedihan, mara bahaya dan juga kesusahan, hingga duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapuskan dosa-dosanya dengan hal tersebut.” (HR. Bukhari & Muslim)
9. Kesabaran merupakan suatu keharusan, dimana seseorang tidak boleh putus asa hingga ia menginginkan kematian. Sekiranya memang sudah sangat terpaksa hendaklah ia berdoa kepada Allah, agar Allah memberikan hal yang terbaik baginya; apakah kehidupan atau kematian. Rasulullah SAW mengatakan; Dari Anas bin Malik ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah salah seorang diantara kalian mengangan-angankan datangnya kematian karena musibah yang menimpanya. Dan sekiranya ia memang harus mengharapkannya, hendaklah ia berdoa, ‘Ya Allah, teruskanlah hidupku ini sekiranya hidup itu lebih baik unttukku. Dan wafatkanlah aku, sekiranya itu lebih baik bagiku.” (HR. Bukhari Muslim)
Bentuk-Bentuk Kesabaran
Para ulama membagi kesabaran menjadi tiga hal; sabar dalam ketaatan kepada Allah, sabar untuk meninggalkan kemaksiatan dan sabar menghadapi ujian dari Allah:
1. Sabar dalam ketaatan kepada Allah. Merealisasikan ketaatan kepada Allah, membutuhkan kesabaran, karena secara tabiatnya, jiwa manusia enggan untuk beribadah dan berbuat ketaatan. Ditinjau dari penyebabnya, terdapat tiga hal yang menyebabkan insan sulit untuk sabar. Pertama karena malas, seperti dalam melakukan ibadah shalat. Kedua karena bakhil (kikir), seperti menunaikan zakat dan infaq. Ketiga karena keduanya, (malas dan kikir), seperti haji dan jihad.
Kemudian untuk dapat merealisasikan kesabaran dalam ketaatan kepada Allah diperlukan beberapa hal,
(1) Dalam kondisi sebelum melakukan ibadah berupa memperbaiki niat, yaitu kikhlasan. Ikhlas merupakan kesabaran menghadapi duri-duri riya’.
(2) Kondisi ketika melaksanakan ibadah, agar jangan sampai melupakan Allah di tengah melaksanakan ibadah tersebut, tidak malas dalam merealisasikan adab dan sunah-sunahnya.
(3) Kondisi ketika telah selesai melaksanakan ibadah, yaitu untuk tidak membicarakan ibadah yang telah dilakukannya supaya diketahui atau dipuji orang lain.
2. Sabar dalam meninggalkan kemaksiatan. Meninggalkan kemaksiatan juga membutuhkan kesabaran yang besar, terutama pada kemaksiatan yang sangat mudah untuk dilakukan, seperti ghibah (baca; ngerumpi), dusta, memandang sesuatu yang haram dsb. Karena kecendrungan jiwa insan, suka pada hal-hal yang buruk dan “menyenangkan”. Dan perbuatan maksiat identik dengan hal-hal yang “menyenangkan”.
3. Sabar dalam menghadapi ujian dan cobaan dari Allah, seperti mendapatkan musibah, baik yang bersifat materi ataupun inmateri; misalnya kehilangan harta, kehilangan orang yang dicintai dsb.
Aspek-Aspek Kesabaran sebagaimana yang Digambarkan dalam Hadits
Dalam hadits-hadits Rasulullah SAW, terdapat beberapa hadits yang secara spesifik menggambarkan aspek-aspek ataupun kondisi-kondisi seseroang diharuskan untuk bersabar. Meskipun aspek-aspek tersebut bukan merupakan ‘pembatasan’ pada bidang-bidang kesabaran, melainkan hanya sebagai contoh dan penekanan yang memiliki nilai motivasi untuk lebih bersabar dalam menghadapi berbagai permasalahan lainnya. Diantara kondisi-kondisi yang ditekankan agar kita bersabar adalah :
1. Sabar terhadap musibah.
Sabar terhadap musibah merupakan aspek kesabaran yang paling sering dinasehatkan banyak orang. Karena sabar dalam aspek ini merupakan bentuk sabar yang Dalam sebuah hadits diriwayatkan, :
Dari Anas bin Malik ra, bahwa suatu ketika Rasulullah SAW melewati seorang wanita yang sedang menangis di dekat sebuah kuburan. Kemudian Rasulullah SAW bersabda, ‘Bertakwalah kepada Allah, dan bersabarlah.’ Wanita tersebut menjawab, ‘Menjauhlah dariku, karena sesungguhnya engkau tidak mengetahui dan tidak bisa merasakan musibah yang menimpaku.’ Kemudian diberitahukan kepada wanita tersebut, bahwa orang yang menegurnya tadi adalah Rasulullah SAW. Lalu ia mendatangi pintu Rasulullah SAW dan ia tidak mendapatkan penjaganya. Kemudian ia berkata kepada Rasulullah SAW, ‘(maaf) aku tadi tidak mengetahui engkau wahai Rasulullah SAW.’ Rasulullah bersabda, ‘Sesungguhnya sabar itu terdapat pada hentakan pertama.’ (HR. Bukhari Muslim)
2. Sabar ketika menghadapi musuh (dalam berjihad).
Dalam sebuah riwayat, Rasulullah bersabda : Dari Abu Hurairah ra berkata, bahwa Rasulullah SAW bersabda, ‘Janganlah kalian berangan-angan untuk menghadapi musuh. Namun jika kalian sudah menghadapinya maka bersabarlah (untuk menghadapinya).” HR. Muslim.
3. Sabar berjamaah, terhadap amir yang tidak disukai.
Dalam sebuah riwayat digambarkan; Dari Ibnu Abbas ra beliau meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, ‘Barang siapa yang melihat pada amir (pemimpinnya) sesuatu yang tidak disukainya, maka hendaklah ia bersabar. Karena siapa yang memisahkan diri dari jamaah satu jengkal, kemudian ia mati. Maka ia mati dalam kondisi kematian jahiliyah. (HR. Muslim)
4. Sabar terhadap jabatan & kedudukan.
Dalam sebuah riwayat digambarkan : Dari Usaid bin Hudhair bahwa seseorang dari kaum Anshar berkata kepada Rasulullah SAW; ‘Wahai Rasulullah, engkau mengangkat (memberi kedudukan) si Fulan, namun tidak mengangkat (memberi kedudukan kepadaku). Rasulullah SAW bersabda, Sesungguhnya kalian akan melihat setelahku ‘atsaratan’ (yaitu setiap orang menganggap lebih baik dari yang lainnya), maka bersabarlah kalian hingga kalian menemuiku pada telagaku (kelak). (HR. Turmudzi).
5. Sabar dalam kehidupan sosial dan interaksi dengan masyarakat.
Dalam sebuah hadits diriwayatkan, Rasulullah SAW bersabda, ‘Seorang muslim apabila ia berinteraksi dengan masyarakat serta bersabar terhadap dampak negatif mereka adalah lebih baik dari pada seorang muslim yang tidak berinteraksi dengan masyarakat serta tidak bersabar atas kenegatifan mereka. (HR. Turmudzi)
6. Sabar dalam kerasnya kehidupan dan himpitan ekonomi
Dalam sebuah riwayat digambarkan; ‘Dari Abdullah bin Umar ra berkata bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, ‘Barang siapa yang bersabar atas kesulitan dan himpitan kehidupannya, maka aku akan menjadi saksi atau pemberi syafaat baginya pada hari kiamat. (HR. Turmudzi).
Kiat-Kiat untuk Meningkatkann Kesabaran
Ketidaksabaran (baca; isti’jal) merupakan salah satu penyakit hati, yang seyogyanya diantisipasi dan diterapi sejak dini. Karena hal ini memilki dampak negatif dari amalan yang dilakukan seorang insan. Seperti hasil yang tidak maksimal, terjerumus kedalam kemaksiatan, enggan untuk melaksanakan ibadah kepada Allah dsb. Oleh karena itulah, diperlukan beberapa kiat, guna meningkatkan kesabaran. Diantara kiat-kiat tersebut adalah;
1. Mengkikhlaskan niat kepada Allah SWT, bahwa ia semata-mata berbuat hanya untuk-Nya. Dengan adanya niatan seperti ini, akan sangat menunjang munculnya kesabaran kepada Allah SWT.
2. Memperbanyak tilawah (baca; membaca) al-Qur’an, baik pada pagi, siang, sore ataupun malam hari. Akan lebih optimal lagi manakala bacaan tersebut disertai perenungan dan pentadaburan makna-makna yang dikandungnya. Karena al-Qur’an merupakan obat bagi hati insan. Masuk dalam kategori ini juga dzikir kepada Allah.
3. Memperbanyak puasa sunnah. Karena puasa merupakan hal yang dapat mengurangi hawa nafsu terutama yang bersifat syahwati dengan lawan jenisnya. Puasa juga merupakan ibadah yang memang secara khusus dapat melatih kesabaran.
4. Mujahadatun Nafs, yaitu sebuah usaha yang dilakukan insan untuk berusaha secara giat dan maksimal guna mengalahkan keinginan-keinginan jiwa yang cenderung suka pada hal-hal negatif, seperti malas, marah, kikir, dsb.
5. Mengingat-ingat kembali tujuan hidup di dunia. Karena hal ini akan memacu insan untuk beramal secara sempurna. Sedangkan ketidaksabaran (isti’jal), memiliki prosentase yang cukup besar untuk menjadikan amalan seseorang tidak optimal. Apalagi jika merenungkan bahwa sesungguhnya Allah akan melihat “amalan” seseorang yang dilakukannya, dan bukan melihat pada hasilnya. (Lihat QS. 9 : 105)
6. Perlu mengadakan latihan-latihan untuk sabar secara pribadi. Seperti ketika sedang sendiri dalam rumah, hendaklah dilatih untuk beramal ibadah dari pada menyaksikan televisi misalnya. Kemudian melatih diri untuk menyisihkan sebagian rezeki untuk infaq fi sabilillah, dsb.
7. Membaca-baca kisah-kisah kesabaran para sahabat, tabi’in maupun tokoh-tokoh Islam lainnya. Karena hal ini juga akan menanamkan keteladanan yang patut dicontoh dalam kehidupan nyata di dunia.
Penutup
Inilah sekelumit sketsa mengenai kesabaran. Pada intinya, bahwa sabar mereupakan salah satu sifat dan karakter orang mu’min, yang sesungguhnya sifat ini dapat dimiliki oleh setiap insan. Karena pada dasarnya manusia memiliki potensi untuk mengembangkan sikap sabar ini dalam hidupnya.
Sabar tidak identik dengan kepasrahan dan menyerah pada kondisi yang ada, atau identik dengan keterdzoliman. Justru sabar adalah sebuah sikap aktif, untuk merubah kondisi yang ada, sehingga dapat menjadi lebih baik dan baik lagi. Oleh karena itulah, marilah secara bersama kita berusaha untuk menggapai sikap ini. Insya Allah, Allah akan memberikan jalan bagi hamba-hamba-Nya yang berusaha di jalan-Nya.

Tuesday, 13 November 2012

Maal Hijrah 1434 Hijrah

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

1. Alhamdulillah, bersyukur kita ke hadrat Allah Subhanahu Wataala kerana dengan rahmat dan hidayahNya dapatlah kita bersama-sama menyambut Maal Hijrah bagi tahun 1434 Hijrah ini.

2. Hijrah atau perpindahan Rasulullah s.a.w. dari Mekah ke Madinah merupakan satu titik sejarah yang amat besar ertinya ke atas perkembangan Islam dan juga kekuatan umatnya.

3. Pentingnya Hijrah itu tidak dapat kita nafikan kerana ia adalah satu Sunnah Nabi yang memberi pedoman terhadap sikap dan gerak-geri kita. Antaranya, dengan Hijrahlah kedudukan umat Islam telah berubah. Kalaulah sebelum Hijrah mereka telah dihina, diseksa dan dihalang daripada melakukan tuntutan-tuntutan agama, maka setelah berhijrah Rasulullah s.a.w. dan umat Islam tidak lagi menerima penghinaan dan penyeksaan. Sokongan kaum Muslimin di Madinah, serta terlepasnya daripada cengkaman golongan Musyrikin Mekah, telah berjaya membebaskan umat Islam daripada belenggu penindasan dan penghinaan.

4. Selain daripada itu Hijrah juga telah mengubah keadaan kesempitan hidup yang dialami oleh umat Islam dalam bidang ekonomi. Di Madinah khususnya, orang-orang Islam berpeluang dan berjaya membangunkan ekonomi mereka. Hijrah juga menjadikan kumpulan Muslimin yang kecil bilangannya di Mekah dahulu bertambah besar dan kuat sehingga terbentuknya sebuah negara Islam di Madinah. Negara Islam yang baru muncul itu kemudian telah berkembang maju dan kuat sehingga dapat menandingi pemerintahan-pemerintahan lain di sekitarnya. Kepimpinan yang ditunjukkan oleh Rasulullah s.a.w. sebagai ketua Negara Islam Madinah yang kemudiannya diteruskan oleh sahabat-sahabatnya yang jujur dan ikhlas telah berjaya memperluaskan Negara Islam sehingga ke Eropah dan Asia Tengah.

5. Hijrah Rasulullah s.a.w. dari Mekah ke Madinah juga memberi pengajaran yang penting kepada umat Islam. Untuk memastikan perkembangan agama Islam, Baginda sanggup berundur dahulu dan merintis jalan yang lain yang lebih selamat. Demikian juga dengan kita umat Islam di zaman kemelesetan ini. Jika kita lemah kita harus mencari jalan untuk menguatkan diri sebelum kita menghadapi sesuatu cabaran. Berundur sementara waktu tidak bermakna kegagalan. Ianya satu strategi sahaja. Kita tidak harus angkuh dengan taraf kita sehingga kita tidak sanggup membuat sesuatu yang dianggap rendah atau menghinakan, walhal perbuatan itu boleh menolong kita apabila keadaan berubah. Sebenarnya, apabila kita mengakui dan menerima hakikat itu dan kita menyesuaikan langkah-langkah kita dengan hakikat tersebut demi kejayaan jangka panjang, kita melakukan hijrah yang semangatnya tidak berbeza dengan Hijrah junjungan kita, Nabi Muhammad s.a.w.

6. Sesuai dengan perjuangan Rasulullah s.a.w. yang membetul dan memperkuatkan akidah, memperbaiki dan meningkatkan ekonomi, memaju dan meningkatkan ilmu pengetahuan serta membentuk dan memelihara Kerajaan Islam, maka kita sekarang ini juga berusaha ke arah itu.

7. Sepertimana yang kita sedia maklum bahawa Hijrah ini ertinya berpindah, maka kita umat Islam hendaklah berpindah atau mengubah sikap yang kurang baik dan tidak menguntungkan kepada sikap yang lebih berfaedah, walaupun terpaksa berhadapan dengan berbagai cabaran. Nasib umat Islam tidak akan berubah jika kita sendiri tidak mahu mengubahkannya. Sikap manja, kurang berusaha, mengharap belas kasihan orang adalah sifat-sifat hina yang tidak disukai oleh Islam dan bertentangan dengan semangat Hijrah ini.

8. Hijrah boleh juga kita ertikan sebagai 'keluar' daripada sesuatu kedudukan atau keadaan yang buruk atau tertekan kepada keadaan yang lebih selesa dan terjamin. Umat Islam mestilah mengutamakan unsur ikhtiar dalam hidup kita setiap hari oleh kerana penghijrahan Rasulullah s.a.w. dari Mekah ke Madinah adalah merupakan satu ikhtiar.

10. Peristiwa Hijrah juga mengajar kita supaya bersedia menghadapi sebarang cabaran atau kemungkinan, dan dengan itu berusaha supaya kemungkinan sesuatu peristiwa buruk tidak berlaku. Sebelum Hijrah, Rasulullah s.a.w. telah merapatkan perhubungan dengan pembesar-pembesar Madinah dan sudah terdapat perjanjian dan sumpah setia orang Madinah kepada Baginda. Apabila di Madinah, penganut Islam telah menghadapi beberapa percubaan daripada kaum Jahiliah untuk menawan Madinah. Semua dugaan ini telah dapat diatasi oleh Rasulullah dan pengikut-pengikutnya, apabila mereka bersedia untuk menghadapi kemungkinan-kemungkinan buruk dan tentangan-tentangan seperti itu.

Semua ini adalah sebahagian sahaja daripada pelajaran yang boleh diperolehi daripada satu peristiwa yang amat penting dalam sejarah perkembangan Islam. Jika bahagian yang kecil ini sahaja memberi panduan kepada kehidupan umat Islam, ini sudah boleh menjamin kebahagiaan yang besar bagi kita.

Dalam sambutan Maal Hijrah yang akan diadakan pada tiap-tiap tahun, kita mungkin dapat memperolehi lain-lain pelajaran pula daripada peristiwa Hijrah. Tidak syak lagi bahawa sedikit demi sedikit sambutan Maal Hijrah akan menjadi satu daripada cara bagi mengembangkan ajaran dan nilai hidup umat Islam yang boleh menambahkan kebahagiaan kita. Oleh itu, kita rayakanlah Maal Hijrah dengan penuh kesedaran dan kefahaman akan pentingnya peristiwa yang berkat ini.

Sempena sambutan peristiwa Hijrah yang bersejarah ini, marilah kita bersama-sama memperkuatkan keazaman dan mengembleng tenaga menjalankan kewajipan. Sama-samalah kita berdoa ke hadrat Allah Subhanahu Wataala semoga perjuangan kita akan sentiasa diberkati dan dilindungiNya.

Saturday, 10 November 2012

Erti Disebalik Kesetiaan


Ramai insan yang masih lagi tidak faham akan apakah erti kesetiaan dalam sebuah perhubungan. Ramai yang bertanya mengapa kita perlu setia, sedangkan belum tentu kekasih kita itu menjadi pasangan hidup kita? Disebabkan persoalan inilah kecurangan sering berlaku dimasa kini, sehingga ramai antara insan di muka bumi ini dilanda kekecewaan dan ada yang menyedihkan sehingga sanggup membunuh diri apabila ditinggalkan kekasih.
Kesetiaan dalam perhubungan adalah sangat penting, ini adalah kerana kita telah mengambil amanat dan tanggungjwab daripada pasangan kita itu untuk menjadikan dirinya hanya satu dihati kita sewaktu kita mengambilnya sebagai kekasih. Alangkah sedihnya apabila tanggugjawab atau amanat yang seharusnya kita jaga itu, tidak kita tunaikannya…? Tidakkah ia sama dengan penipuan…? Jangan taburkan janji jika kita tidak mampu untuk tepati dan jangan mengata cinta kalau kita tidak mampu untuk memberikannya sepenuh hati…
Ingatlah bahawa, hidup kita seperti roda, tidak semestinya kita sentiasa berada di atas. Jika kita permainkan hati insan lain, suatu masa kita juga akan dipermainkan… Dan pada waktu itu, penyesalan tiada gunanya… Setiap apa yg kita lakukan pasti ada balasanya, hanya masa yang dapat menentukan…
Untuk insan yang menjaga kesetiaan terhadap pasangan, anda adalah yang terbaik. Jadilah insan yang boleh membahagaian pasangan kita tanpa rasa jemu. Jika anda dicurangi, jaganlah bersedih ataupun berdendam, tetaplah menjadi yang terbaik. Kerana anda mempunyai maruah diri, jangan samakan diri anda dengan insan yang tidak setia. Anda telah melakukan yang terbaik untuk pasangan anda dengan menjaga keperibadian diri dengan sebaiknya. Mereka tidak pandai menjaga harga diri mereka. Suatu hari nanti mereka akan menyesal dan akan menyedari akan kebaikan yang anda lakukan…
Tidak penting utk kita ketahui sama ada pasangan kita jujur, ikhlas atau setia dengan kita yang penting Allah tahu kita bagaimana, dan Allah tidak akan mensia-siakan apa yang kita lakukan… Tawakal dan redha lah…
Lelaki atau wanita yang baik hanya untuk lelaki atau wanita yang baik…
Manakala lelaki atau wanita yang tidak baik hanya untuk lelaki yang tidak baik…
Pilihan adalah di tangan anda…

Monday, 19 March 2012

Cinta Sejati?



Apa Itu Cinta?

Cinta itu perasaan jiwa semulajadi. Ia adalah fitrah yang menjadi salah satu sifat manusia. Ia wujud bila hati tertarik kepada yang dicintainya itu penuh emosi dan gembira kerana itu.
Dalam memenuhi keperluan untuk puas dalam cinta,manusia menghadapi krisis nilai. Insan yang mula jatuh cinta akan bersungguh untuk mencapai kepuasan dalam cinta itu. Ada yang menjadi buta dan kabur nilai akibat bercinta. Tapi bagi yang bijaksana mereka mendambakan cara yang sesuai dan mulia untuk memenuhi keperluan cintanya itu. Insan sebegini ingin hidup yang bersih dan penuh taqwa.

Sifat Cinta
Cinta itu suci,mahal dan tinggi tarafnya. Sifat cinta itu sempurna. Jika tidak, cinta akan cacat. Itulah cinta sebenar cinta.

Cinta Wujud Sejak Dilahirkan
Rasa cinta sedia wujud di dalam jiwa manusia sejak manusia itu lahir ke dunia. Cuma manusia akan melalui tahap-tahap kelahiran cinta bermula dari cinta kepada belaian ibu,membawa kepada cinta kepadakekasih dan akhirnya setelah puas mencari cinta suci,maka akan cinta kepada Tuhan Wujudnya cinta itu tidak dapat dilihat tapi dapat dirasa dan cinta sebenar cinta itu suci murni serta putih bersih.

Cinta Bersedia
Bila sampai masanya di setiap tahap-tahap cinta,maka Tuhan menjadikan manusia itu bersedia menerima cinta itu.Pada mulanya jiwa itu bersedia menerima cinta,lantas sedia pula untuk berkongsi rasa kewujudan dengan dikasihi. Sedia untuk mengikat setia serta saling memahami. Setia untuk dipertanggungjawapkan kerana cinta. Sedia untuk menyerah diri pada yang dicintai.

Cinta Itu Indah
Walaupun kewujudan cinta tidak bisa dilihat,tetapi cinta itu indah dan cantik. Cantiknya itu tulin dan tidak ia bertopeng.Bukan saja ia cantik malah suci murni,bercahaya gemerlap dan putih bersih.

Cinta Itu Mengharap Balasan
Cinta antara manusia itu berkehendak kepada jodoh atau pasangan,dari diri yang punya persamaan,dari diri yang asalnya satu.Bila dapat yang dicari, bermakna cinta itu menganggap telah bertemu yang paling sesuai dan secucuk dengan jiwanya,untuk bersatu kembali. Kehendak itu timbal balik sifatnya kerana manusia dalam bercinta tidak hanya menerima tapi juga menerima.

Cinta Itu Menakluki
Sifat cinta itu ingin menguasai. Dia mahu yang dikasihinya itu hanya khusus untuk dirinya. Dia tidak mahu ianya dikongsi dengan orang lain. Sifat ini menuntut hak untuk mencintai dan dicintai. Tapi,dalam pada ingin menakluki,ia juga ingin ditakluki sepenuhnya.

Cinta Itu Mengetahui
Pada asasnya sebenarnya cinta itu mengetahui. Orang yang bercinta tahu siapa yang patut dicintainya. Cinta tidak perlu bertanya.Manusia boleh jatuh cinta tanpa membaca ilmiah atau novel tentang cinta. Mereka tahu apa yang perlu dilakukan. Tapi,cinta cuma tahu bercinta.Ia tidak tahu akan peraturan cinta jika tiada diberikan panduan.

Cinta Itu Hidup
Cinta adalah ibarat manusia,boleh berputik,lalu mekar serta boleh layu dan gugur. Cinta itu punya deria dan perasaan. Cinta mendengar cinta,berkata cinta,melihat cinta. Cinta ada segala-galanya. Sayang, benci,cemburu,gembira,sedih,tenang,tertekan,ketawa dan menangis. Cinta itu hidup sampai satu ketika ia akan menemui mati.Tapi ramai orang berharap agar cinta itu kekal selagi dia masih hidup dan tetap hidup walaupun telah mati.

Cinta Itu Suci
Sebagaimana yang banyak dikatakan orang,cinta itu suci. Sucinya cinta bukan bermakna ia tidak mengharap balasan. Cinta mengharap balasan cinta. Sucinya cinta bermakna ia tidak bernoda dan tidak pula berdosa Itulah sifat asal cinta,ia suci bagaikan anak yang baru lahir. Mereka yang kenal erti cinta akan cuba mengekalkan cinta itu sesuci mungkin. Mengekalkan cinta suci bermakna menjauhkan ia dari godaan nafsu yang tidak ada batasan.Kerana nafsulah cinta suci jadi bernoda dan berdosa.

Cinta Itu Mempesona
Cinta itu bukan saja indah,tapi mempersonakan. Ia bukan kerana cinta itu nakal sifatnya tapi kerana ia suci dan bersih. Ia adalah sebagaimana anda melihat pada anak kecil yang comel dan bersih. Dia senyum pada anda dan merapati anda. Anda terpesona kerana bukan saja ianya comel,tapi kerana dia adalah insan yang tidak berdosa. Kerana sifat cinta yang mempersona ini selalunya manusia itu berbuat silap bila bercinta.Apa saja yang dilakukan oleh kekasihnya…mempersonakannya dan nampak cantik serta betul walaupun itu adalah satu dosa dan akan menodai cinta itu sendiri. Itulah juga yang menyebabkan orang yang bercinta itu walaupun seorang yang bijaksana,akan menjadi bodoh kerana pesona cinta. Akal itu mampu dikalahkan oleh nafsu.Nafsu itu tidak bisa dikalahkan melainkan jika anda sentiasa ingat kepada Tuhan Maha Pencipta.

Apakah itu Bukti Cinta?
Cinta perlukan bukti. Ramai orang percaya bahawa bukti cinta itu ialah mengorbankan atau menyerahkan apa saja yang kekasih anda mahu.Mereka percaya jika itu tidak berlaku,maka cinta itu tidak tinggi nilainya.
Sebenarnya anggapan itu tidak tepat. Jika anda beri semua yang dia mahu,apakah yang tinggal pada anda? Benarkah dia cinta pada anda bila dia mahukan pengorbanan anda?
Cinta sejati tidak memusnahkan atau merosakkan diri kekasih yang dicintai. Malah ia menjaga agar kekasih tetap suci dan selamat sebagaimana sucinya cinta itu sendiri
“Janganlah hendaknya kecintaan anda terhadap sesuatu itu membuatkan anda menjadi lupa dan kebencian anda terhadap sesuatu itu membuatkan anda menjadi hancur”

Monday, 27 February 2012

Fakta Pernikahan





Sedang saya baca novel 'Sebarkan CintaMU' oleh Fatimah Syarha, ada banyak fakta yang menarik terkandung di dalamnya. Dan tadi, sewaktu menunggu suami di hospital, fakta berkaitan pernikahan Rasulullah: Sebab nafsu atau kepentingan agama betul2 menarik perhatian saya. Ianya berkaitan monogami dan poligami yang dialami sendiri oleh Rasulullah SAW. Jom saya kongsikan fakta berkaitan Saidatina Khadijah, wanita yang sentiasa dirindui Rasulullah meskipun telah lama wafat...

Khadijah al-Khuwailid

Sebab Pernikahan:
  • Akhlaknya mulia. Agamanya fitrah, sepupunya Waraqah Bin Naufal seorang ahli kitab yang jujur
  • Melindungi janda yang kematian suami
Hikmah Pernikahan
  • Rasulullah tidak pernah menduakan Khadijah ketika hayatnya
  • Malah tidak mengambil hamba ketika hidup bersama Khadijah
  • Khadijah seorang isteri yang menunaikan setiap kewajipannya
  • Beliau mampu memberikan baginda keturunan
  • Bersama baginda saat susah mahupun senang ketika baginda diancam dan dipinggirkan
  • Bukankah baginda menunjukkan contoh tidak menduakan isteri yang memiliki semua kualiti ini?
  • Rasulullah SAW tidak berpoligami pada saat anak-anak baginda masih lagi memerlukan perhatian dan didikan seorang ayah
  • Baginda berpoligami saat anak-anak baginda sudah besar dan mampu berdikari
  • Rasulullah bermonogami selama 25 tahun
  • Rasulullah sentiasa terkenang-kenangkan zaman monogaminya dengan Khadijah sehingga Aisyah cemburu walaupun Khadijah sudah lama wafat
  • Keluarga Rasulullah tidak mengalami konflik yang ketika berada dalam suasana monogami. Anak-anak baginda membesar dalam suasana ini. Sebaliknya sering tercetus konflik rumahtangga dalam suasana poligami
  • Rasulullah SAW tidak pernah marahkan isteri ketika mempunyai seorang isteri. Sebaliknya sering teruji dengan tindakan-tindakan isteri lain yang lahir kerana cemburu dalam alam poligami hinggakan baginda pernah marahkan mereka dalam tempoh masa yang agak lama
Konflik rumahtangga
  • Hampir tiada
Tahun dan tempoh pernikahan (Masihi/Hijrah)
  • 595 Masihi
  • 25 Tahun

Tanda Tanda Orang Berbohong .




BERAPA KERAP ANDA PERASAN BAHAWA TIBA-TIBA TEMAN LELAKI ATAU PASANGAN MEMBOHONGI ANDA? ADA SAHAJA ALASAN YANG DIBERI SEHINGGA ANDA MERASAKAN ADA SESUATU YANG DISELINDUNGKAN. ITU JIKA ANDA MENGESANNYA.

DENGAN LEBIH AWAL DAN ANDA TAHU DIA MEMANG SEDANG BERBOHONG. TETAPI BAGAIMANA PULA JIKA SI DIA SEDIKIT PUN TIDAK MENUNJUKKAN BAHAWA DIA SEDANG BERBOHONG DAN ANDA TERUS-TERUSAN MEMPERCAYAINYA.

Jangan risau, tip dibawah akan membantu anda mengenal pasti sama ada pasangan anda berbohong atau tidak...

Menyentuh hidung
Apabila seseorang itu berbohong, tisu-tisu erektil pada hidungnya akan dipenuhi darah menyebabkan ianya membesar. Fenomena ini juga dikenali sebagai kesan pinocchio. Jadi, apabila si dia bercakap dengan anda dan kerap menyentuh hidung yang tidak gatal, sebenarnya ada sesuatu yang diselindungkannya.

Menutup mulut

Ada sesetengah orang meletakkan tangan di atas mulut mereka apabila berbohong. Ini merupakan satu tindak balas automatik yang lahir dari segi psikologi kerana dari kecil lagi sudah dididik untuk tidak berbohong. Apabila mulut mengeluarkan kata-kata dusta, tangan cuba menghalangnya.

Gagap

Apabila seseorang yang bercakap lancar dan licin tiba-tiba gagap merupakan tanda-tanda sedang mengalami tekanan emosi. Sekiranya tiada apa-apa petunjuk bahawa tekanan ini disebabkan perkara lain seperti sedih, pilu, marah dan sebagainya, kemungkinan besar orang tersebut berbohong. Jadi, jika anda bertanya pada teman lelaki/suami anda dan sidia gagap untuk menjawabnya, maka anda tahu membuat kesimpulan atas tindakannya itu.

Pergerakan mata

Orang yang berbohong akan cuba meyakinkan pendengarnya dengan memandang tepat pada mata mangsa. Oleh itu,sekiranya kelipan mata berkurangan dari kadar biasa, ini mungkin tanda berbohong. Sebaliknya, ada juga keadaan dimana sekiranya mata seseorang itu tiba-tiba berkedip dengan banyaknya, ini merupakan tanda-tanda tekanan perasaan yang berkemungkinan disebabkan berbohong juga. Kerlipan mata yang normal sahaja menunjukkan dirinya tidak berbohong.

Melengah-lengahkan jawapan
Orang yang berbohong perlu berfikir sebentar untuk mereka cipta pembohongannya. Berfikir terlalu lama, berdehem, batuk dan sebagainya merupakan tanda-tanda bahawa orang tersebut mungkin berdusta.

Resah
Orang yang berdusta kerap gelisah dan mengubah-ubah posturnya. Apabila seseorang yang dalam keadaan tenang tiba-tiba sahaja menjadi resah dan tidak senang duduk apabila berhadapan dengan sesuatu soalan, ini berkemungkinan merupakan bahawa seseorang itu sedang berbohong.

Kesimpulannya, sekiranya kita ingin mengesan sama ada seseorang itu berbohong, kita perlu sentiasa memerhatikan air muka dan gerak badannya dengan teliti. Body language sudah boleh menunjukkan sama ada dirinya berbohong atau tidak. Sebarang perubahan dari keadaan normal mungkin merupakan tanda orang tersebut berbohong.